<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Arsip Moslem</title>
	<atom:link href="http://draftmuslim.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://draftmuslim.wordpress.com</link>
	<description>Arsip Tulisan-Tulisan Online Umat Islam</description>
	<lastBuildDate>Thu, 18 Oct 2007 05:29:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='draftmuslim.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Arsip Moslem</title>
		<link>http://draftmuslim.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://draftmuslim.wordpress.com/osd.xml" title="Arsip Moslem" />
	<atom:link rel='hub' href='http://draftmuslim.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Berjabat Tangan Dan Ucapan Di Hari Raya &#8216;Iedul Fithri</title>
		<link>http://draftmuslim.wordpress.com/2007/10/18/berjabat-tangan-dan-ucapan-di-hari-raya-iedul-fithri/</link>
		<comments>http://draftmuslim.wordpress.com/2007/10/18/berjabat-tangan-dan-ucapan-di-hari-raya-iedul-fithri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Oct 2007 05:29:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Istimewa]]></category>
		<category><![CDATA[Special]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://draftmuslim.wordpress.com/2007/10/18/berjabat-tangan-dan-ucapan-di-hari-raya-iedul-fithri/</guid>
		<description><![CDATA[Setelah adzan Magrib berkumandang pada hari terakhir Romadhon atau setelah pernyataan Pemerintah mengenai esok adalah hari raya &#8216;Iedul Fitri. Telphone/ponsel, fax, email dan berbagai media komunikasi lainnyapun sibuk, para penggunanya saling bersilahturahim dengan sanak saudara, karib kerabat ataupun rekannya yang berada jauh di mata. Setelah sholat &#8216;Ied, mulailah suasana silahturahim, saling bersalaman dan saling mengucapkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=draftmuslim.wordpress.com&amp;blog=680589&amp;post=39&amp;subd=draftmuslim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="fnu2"></span><span class="fnu2"><span class="fnu2"></span></span>Setelah adzan Magrib berkumandang pada hari terakhir Romadhon atau setelah pernyataan Pemerintah mengenai esok adalah hari raya &#8216;Iedul Fitri. Telphone/ponsel, fax, email dan berbagai media komunikasi lainnyapun sibuk, para penggunanya saling bersilahturahim dengan sanak saudara, karib kerabat ataupun rekannya yang berada jauh di mata. Setelah sholat &#8216;Ied, mulailah suasana silahturahim, saling bersalaman dan saling mengucapkan hari raya &#8216;Iedul Fithri mewarnai di hampir setiap rumah-rumah atau tempat-tempat kaum muslimin berkumpul. Suasana ini berlangsung dalam kurun waktu beberapa hari selama bulan Syawal.<span id="more-39"></span></p>
<p align="justify">Pada hari tersebut, kaum muslim, khususnya muslim Indonesia, banyak yang lupa atau tidak tahu atau mungkin sengaja melakukan jabat tangan dengan orang-orang yang bukan mahromnya. Sungguh menyedihkan, di hari pertama kita meninggalkan Romadhon, kita langsung melakukan sebuah kesalahan. Kita yang merayakan hari raya &#8216;Iedul Fithri ini sebagai wujud kecintaan kita kepada Rasululloh <em>Shollallahu ‘alaihi wa Sallam </em>dan atas nikmat adanya hari raya ini, namun kita melakukan pelanggaran terhadap larangannya. Sebagaimana larangan Rasululloh <em>Shollallahu ‘alaihi wa Sallam</em>, yang artinya: <em>&#8220;Sungguh, seandainya kepala kalian ditusuk dengan jarum besi, lebih baik daripada dia menyentuh yang tidak halal dia sentuh&#8221;</em> (lihat Silsilah Al-Hadits As Shohihah 226).</p>
<p>Dan Nabi <em>Shollallahu ‘alaihi wa Sallam </em>juga bersabda, yang artinya:<em> &#8220;Sesungguhnya aku tidak pernah berjabat tangan dengan seorang wanitapun&#8221;.</em> Juga perkataan &#8216;Aisyah <em>radhiyallahu &#8216;anha</em>, yang artinya: <em>&#8220;Demi Alloh, tiadalah pernah tangan Rasululloh Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menyentuh tangan wanita walau sekali. Dan tiadalah beliau memba&#8217;iat kaum wanita, kecuali hanya dengan ucapan&#8221;.</p>
<p></em>Lalu apa yang harus kita lakukan?, tentunya telah jelas batasan-batasan dalam syariat Islam, agar kita tidak melakukan berbagai kemungkaran di hari raya &#8216;Iedul Fithri ataupun di hari-hari lainnya. Kita berupaya menghindari untuk taat kepada Alloh <em>&#8216;Azza wa Jalla </em>dan Rasululloh <em>Shollallahu ‘alaihi wa Sallam</em>, dengan menjauhi larangan-larangannya.</p>
<p><strong>Ucapkanlah Taqobbalalla Minna Wa Minka.<br />
</strong>Selain berjabat tangan dengan yang bukan mahrom, terdapat suatu perkara aneh lagi yang merupakan sebuah tradisi terutama tradisi khusus umat muslim Indonesia. Kaum muslim di Indonesia, ketika tiba hari raya &#8216;Iedul Fithri banyak yang mengucapkan &#8220;Minal &#8216;Aaidiin wal Faaizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin&#8221;. Sehingga tergambar di benak kaum muslimin di Indonesia bahwa arti minal &#8216;aaidiin&#8230;. dst adalah mohon maaf lahir dan batin. Padahal arti minal &#8216;aaidiin&#8230;. dst yang sesungguhnya adalah (Semoga kita) termasuk orang-orang yang kembali dan orang-orang yang menang. Entah apa yang dimaksud dengan kata &#8216;aaidiin, apakah kembali berbuka (fithri) atau kembali menjadi fithrah (suci). Tapi yang jelas, kita telah mengetahui makna &#8216;Iedul Fithri yang sebenarnya (baca artikel sebelumnya). Dan mudah-mudahan dosa kita diampuni dari Romadhon yang lalu ke Romadhon berikutnya. Sebagaimana hadits Nabi, yang artinya: <em>&#8220;Sholat lima waktu, dari jum&#8217;at ke jum&#8217;at berikutnya, dari Romadhon ke Romadhon berikutnya, bisa menghapuskan dosa-dosa yang terjadi dintaranya, jika dosa-dosa besar bisa dihindari&#8221;</em> (HR: Bukhori dan Muslim).</p>
<p>Sehingga perlu diluruskan kembali, seseorang yang mengucapkan, &#8220;Semoga kita kembali menjadi orang yang fitrah (diampuni dosanya) dan termasuk orang yang menang&#8221;. Bukan berarti karena hari raya ini adalah hari raya fithrah/suci akan tetapi karena hadits diatas. <em>Wallohu &#8216;Alam</em>.</p>
<p>Permasalahannya tidak selesai sampai disini, akan tetapi di dalam Islam, kita dituntut untuk mengikuti teladan kita yaitu Nabi Muhammad kemudian para sahabat, kemudian orang-orang yang hidup setelah mereka (Taabi&#8217;iin) kemudian Taabi&#8217;ut taabi&#8217;iin. Sementara dalam mengucapkan selamat hari raya &#8216;Iedul Fithri telah datang atsar yang mulia yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi, yang artinya:<em> &#8220;Dari Khalid bin Ma&#8217;dan radhiyallaahu &#8216;anhu berkata, &#8216;aku menemui Watsilah bin al-Aqsa&#8217; pada hari &#8216;Ied lalu aku mengatakan Taqobbalalla Minna Wa Minka.&#8217; Kemudian Watsilah berkata, &#8216;Aku menemui Rasululloh pada hari &#8216;Ied, lalu aku mengucapkan Taqobbalalla Minna Wa Minka kemudian Rasululloh menjawab Ya, Taqobbalalla Minna Wa Minka&#8217;&#8221;</em> (HR: Baihaqi dalam sunan Kubra, No 6088)</p>
<p>Sehingga, dapat kita simpulkan bahwa yang dianjurkan adalah mengucapkan do&#8217;a &#8220;<strong><em>Taqobbalalla Minna Wa Minka</em></strong>&#8221; yang artinya &#8220;<strong>Semoga Alloh menerima (amal ibadah) kita dan kamu</strong>&#8220;. Maka terlepas dari boleh atau tidaknya mengucapkan <em>Minal &#8216;Aaidiin wal Faaizin</em>. Maka alangkah baiknya jika kita beragama mengikuti tuntunan Rasululloh <em>Shollallahu ‘alaihi wa Sallam </em>dan contoh dari para ahlinya yaitu generasi para sahabat. Bukankah mereka lebih dekat dengan Rasululloh sehingga mereka lebih mengerti agama daripada kita???</p>
<p>Adapun kalimat &#8220;Mohon Maaf lahir dan batin&#8221; menjadi kalimat ampuh bagi kaum muslimin, yaitu sebagian mereka hanya meminta maaf ketika hari raya tiba. Sehingga ketika sebagian mereka berbuat salah pada seseorang, sebagian mereka berkata: &#8220;Ah, minta maafnya nanti saja pada saat hari raya, toh pasti dimaafkan&#8221; atau semisalnya. Padahal anjuran minta maaf adalah ketika kita berbuat kesalahan dan tidak ada yang menjamin kehidupan seorangpun sampai hari raya tiba kecuali Alloh <em>&#8216;Azza wa Jalla</em>. <em>Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab</em></p>
<p>(Sumber Rujukan: Silsilah Al-Hadits As Shohihah, Sunan Kubra, Makalah Beberapa Catatan Kaki Tentang &#8216;Iedul Fithri, Buletin An-Naba Masjid Kampus UGM, Buletin An-Nahl)</p>
<p align="center"><strong>Allohu Akbar&#8230; Allohu Akbar&#8230; Allohu Akbar&#8230;<br />
</strong>Segenap TIM Pengelola <a href="http://mediamuslim.info">MediaMuslim.Info</a> mengucapkan<br />
<strong>Taqobbalalla Minna Wa Minkum<br />
Semoga Alloh menerima amal ibadah kita semua, amin&#8230;<br />
Selamat Hari Raya &#8216;Iedul Fithri 1428 H</strong></p>
<p>Sumber:<a href="http://www.mediamuslim.info/hari-istimewa/berjabat-tangan-dan-ucapan-di-hari-raya-iedul-fithri.html "> Berjabat Tangan Dan Ucapan Di Hari Raya &#8216;Iedul Fithri</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/draftmuslim.wordpress.com/39/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/draftmuslim.wordpress.com/39/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/draftmuslim.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/draftmuslim.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/draftmuslim.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/draftmuslim.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/draftmuslim.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/draftmuslim.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/draftmuslim.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/draftmuslim.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/draftmuslim.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/draftmuslim.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/draftmuslim.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/draftmuslim.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/draftmuslim.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/draftmuslim.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=draftmuslim.wordpress.com&amp;blog=680589&amp;post=39&amp;subd=draftmuslim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://draftmuslim.wordpress.com/2007/10/18/berjabat-tangan-dan-ucapan-di-hari-raya-iedul-fithri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a99001807a16189761aa08591482e39c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">arsipmoslem</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Catatan Kaki Mengenai Makna ‘Iedul Fithri</title>
		<link>http://draftmuslim.wordpress.com/2007/10/18/catatan-kaki-mengenai-makna-%e2%80%98iedul-fithri/</link>
		<comments>http://draftmuslim.wordpress.com/2007/10/18/catatan-kaki-mengenai-makna-%e2%80%98iedul-fithri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Oct 2007 05:25:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Istimewa]]></category>
		<category><![CDATA[Special]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://draftmuslim.wordpress.com/2007/10/18/catatan-kaki-mengenai-makna-%e2%80%98iedul-fithri/</guid>
		<description><![CDATA[Sebagian besar kaum muslimin mempunyai keyakinan bahwa makna “’Iedul Fithri” adalah hari kembali ke fithrah (suci). Ungkapan-ungkapan ini, semakin tidak asing lagi ketika menjelang Romadhon berakhir, baik dari para khotib/penceramah sampai berbagai tayangan atau tulisan baik di media elektronik, media cetak dan spanduk-spanduk serta lainnya. Terlepas dari berbagai hal yang disebut dengan tradisi, maka perlu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=draftmuslim.wordpress.com&amp;blog=680589&amp;post=38&amp;subd=draftmuslim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagian besar kaum muslimin mempunyai keyakinan bahwa makna “’Iedul Fithri” adalah hari kembali ke fithrah (suci). Ungkapan-ungkapan ini, semakin tidak asing lagi ketika menjelang Romadhon berakhir, baik dari para khotib/penceramah sampai berbagai tayangan atau tulisan baik di media elektronik, media cetak dan spanduk-spanduk serta lainnya.<span id="more-38"></span></p>
<p align="justify">Terlepas dari berbagai hal yang disebut dengan tradisi, maka perlu kita teliti kembali makna ‘Iedul Fithri secara bahasa dan secara syara’/agama. Dengan harapan, kita memiliki sebuah acuan yang lebih baik dan sesuai dengan suri tauladan Nabi Muhammad <em>Shollallahu ‘alaihi wa Sallam</em>.</p>
<p>Secara bahasa, <strong>‘Ied</strong> berasal dari kata <em>‘aada</em>,<em> ya’uudu</em>, <em>‘audatan</em> yang artinya kembali. Sedangkan <strong>al-fithru</strong> artinya adalah <em>al-ifthaar</em> yang berarti berbuka atau <em>kasru as-shaum</em> yaitu pembatalan puasa. (Lihat Al Mu’jamu al-wasiithu dan kamus Arab-Indonesia Al ‘Ashri dan Al-Munawwir). Jadi ‘Iedul Fithri adalah hari raya kembali berbuka setelah berpuasa selama sebulan penuh.</p>
<p>Sehingga sangat jelas, secara bahasa bahwa al-fithru artinya <em>al-ifthaar</em> yang berarti berbuka. Bukan yang dikatakan sebagian orang yang menyatakan bahwa al-fithru (Fitri/Fithri) berarti suci, sifat pembawaan yang ada sejak lahir. Karena sangat jelas perbedaan kata antara keduanya. Al-Fithru (untuk Fitri/Fithri), huruf penyusunnya adalah fa-tha-ra, sedangkan Al-Fithrah (untuk Fitrah/Suci), huruf penyusunnya adalah fa-tha-ra-ta murbuuthah.</p>
<p>Sayangnya, dalam 2 kamus besar Arab-Indonesia (yang sangat banyak sekali manfaatnya sehingga banyak dijadikan referensi oleh umat Islam Indonesia, semoga Alloh  <em>Subhaanahu wa Ta’ala </em>memberikan ganjaran kepada penyusunnya dengan sebaik-baik ganjaran… amin) makna ‘Iedul Fithri diartikan hanya sebagai istilah saja, tidak diartikan secara bahasa. Makna atau arti ‘Iedul Fithri di kamus tersebut tertulis hari ‘Idul Fithri atau hari raya lebaran.</p>
<p>Sedangkan menurut syara’, telah dating hadits dari Abu Hurairah, dia berkata, yang artinya: <em>“Rasululloh Shollallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda: (‘Iedul) Fithri adalah hari kalian berbuka dan (‘Iedul) Adha adalah hari kalian menyembelih hewan (kurban)”</em> (HR: Ibnu Majah no. 1660).</p>
<p>Lalu bagaimana dengan kaum muslimin yang berpendapat bahwa ‘Iedul Fithri adalah hari raya kembali menjadi suci (fithrah) karena telah diampuni dosa-dosa kita sebagaimana hadits-hadits yang berbicara tentang pengampunan dosa dan dikabulkannya do’a serta pembebasan dari api neraka karena bulan Romadhon.</p>
<p>Maka, lihatlah diri kita apakah selama bulan Romadhon ini kita telah beribadah dan beramal dengan Ikhlas, penuh keimanan, ihtisab serta sesuai dengan tuntunan Nabi<em> Shollallahu ‘alaihi wa Sallam</em>?</p>
<p>Bukankah suri tauladan kita telah menjelaskan bahwa ‘Iedul Fithri adalah hari raya berbuka? Dan bukan berarti dengan kita memaknai ‘Iedul Fithri dengan hari raya kembali menjadi suci/fitrah (sifat pembawaan yang ada sejak lahir sehingga tidak mempunyai dosa). Wallohu ‘alam. <span>Kita hanya bisa berdo’a agar dosa-dosa kita benar-benar diampuni.. </span>Amiin. <em>Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab</p>
<p></em>(Sumber Rujukan: Al Mu’jamu al-wasiithu, kamus Arab-Indonesia Al ‘Ashri dan Al-Munawwir, Makalah Beberapa Catatan Kaki Tentang &#8216;Iedul Fithri, Buletin An-Naba Masjid Kampus UGM, Buletin An-Nahl, <a href="http://www.mediamuslim.info/hari-istimewa/catatan-kaki-mengenai-makna-iedul-fithri.html">MediaMuslim.Info</a>)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/draftmuslim.wordpress.com/38/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/draftmuslim.wordpress.com/38/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/draftmuslim.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/draftmuslim.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/draftmuslim.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/draftmuslim.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/draftmuslim.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/draftmuslim.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/draftmuslim.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/draftmuslim.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/draftmuslim.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/draftmuslim.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/draftmuslim.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/draftmuslim.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/draftmuslim.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/draftmuslim.wordpress.com/38/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=draftmuslim.wordpress.com&amp;blog=680589&amp;post=38&amp;subd=draftmuslim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://draftmuslim.wordpress.com/2007/10/18/catatan-kaki-mengenai-makna-%e2%80%98iedul-fithri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a99001807a16189761aa08591482e39c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">arsipmoslem</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>POKOK SUMBER AQIDAH</title>
		<link>http://draftmuslim.wordpress.com/2007/03/01/pokok-sumber-aqidah/</link>
		<comments>http://draftmuslim.wordpress.com/2007/03/01/pokok-sumber-aqidah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Mar 2007 03:31:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Draft Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://draftmuslim.wordpress.com/2007/03/01/pokok-sumber-aqidah/</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu ciri manhaj (jalan) yang lurus adalah manhaj yang memiliki kesamaan mashdar (sumber) pengambilan dalil dalam masalah agama, khususnya masalah-masalah yang berkaitan dengan akidah. Hal ini berlaku kapan dan di mana pun kaidah tersebut digunakan. Tidak ada kesimpangsiuran pemahaman akidah pada setiap zaman dalam manhaj tersebut. Dari zaman Rasululloh sholallahu ‘alaihi wassalam hingga zaman [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=draftmuslim.wordpress.com&amp;blog=680589&amp;post=37&amp;subd=draftmuslim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="snap_preview">Salah satu ciri manhaj (jalan) yang lurus adalah manhaj yang memiliki kesamaan mashdar (sumber) pengambilan dalil dalam masalah agama, khususnya masalah-masalah yang berkaitan dengan akidah. Hal ini berlaku kapan dan di mana pun kaidah tersebut digunakan. Tidak ada kesimpangsiuran pemahaman akidah pada setiap zaman dalam manhaj tersebut. Dari zaman Rasululloh sholallahu ‘alaihi wassalam hingga zaman sekarang dan sampai kapan pun, prinsip akidah yang benar tidak pernah berubah. Jika ada perubahan dalam hal akidah, tentu agama ini belumlah sempurna. Prinsip inilah yang digunakan oleh para ulama dalam memahami dan menjaga syariat Islam.<br />
Jika kita menelaah tulisan para ulama dalam menjelaskan akidah, maka akan didapati 2 sumber pengambilan dalil penting. Dua sumber tersebut meliputi :<br />
1.	Dalil asas dan inti yang mencakup Al Qur’an, As Sunnah dan Ijma’ para ulama<br />
2.	Dalil penyempurnaan yang mencakup akal sehat manusia dan fitrah kehidupan yang telah diberikan oleh Alloh azza wa jalla<span id="more-37"></span></p>
<p><strong>Al-Quran Sebagai Sumber Akidah</strong><br />
Al Qur’an adalah firman Alloh yang diwahyukan kepada Rasululloh sholallahu ‘alaihi wassalam melalui perantara Jibril. Di dalamnya, Alloh telah menjelaskan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh hamba-Nya sebagai bekal kehidupan di dunia maupun di akhirat. Ia merupakan petunjuk bagi orang-orang yang diberi petunjuk, pedoman hidup bagi orang yang beriman, dan obat bagi jiwa-jiwa yang terluka. Keagungan lainnya adalah tidak akan pernah ditemui kekurangan dan celaan di dalam Al Qur’an, sebagaimana dalam firman-Nya</p>
<p><em>“Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al Qur’an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-Nya dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”</em> (Q.S. Al An’am:115)</p>
<p>Al Imam Asy Syatibi mengatakan bahwa sesungguhnya Alloh telah menurunkan syariat ini kepada Rasul-Nya yang di dalamnya terdapat penjelasan atas segala sesuatu yang dibutuhkan manusia tentang kewajiban dan peribadatan yang dipikulkan di atas pundaknya, termasuk di dalamnya perkara akidah.<br />
Alloh menurunkan Al Qur’an sebagai sumber hukum akidah karena Dia tahu kebutuhan manusia sebagai seorang hamba yang diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Bahkan jika dicermati, akan ditemui banyak ayat dalam Al Qur’an yang menjelaskan tentang akidah, baik secara tersurat maupun secara tersirat. Oleh karena itu, menjadi hal yang wajib jika kita mengetahui dan memahami akidah yang bersumber dari Al Qur’an karena kitab mulia ini merupakan penjelasan langsung dari Rabb manusia, yang haq dan tidak pernah sirna ditelan masa.</p>
<p><strong>As Sunnah: Sumber Kedua</strong><br />
Seperti halnya Al Qur’an, As Sunnah adalah satu jenis wahyu yang datang dari Alloh subhanahu wata’ala walaupun lafadznya bukan dari Alloh tetapi maknanya datang dari-Nya. Hal ini dapat diketahui dari firman Alloh</p>
<p><em>“Dan dia (Muhammad) tidak berkata berdasarkan hawa nafsu, ia tidak lain kecuali wahyu yang diwahyukan”</em> (Q.S An Najm : 3-4)</p>
<p>Rasululloh sholallahu ‘alaihi wassalam juga bersabda:</p>
<p><em>“Tulislah, Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak keluar darinya kecuali kebenaran sambil menunjuk ke lidahnya”</em>. (Riwayat Abu Dawud)</p>
<p>Yang menjadi persoalan kemudian adalah kebingungan yang terjadi di tengah umat karena begitu banyaknya hadits lemah yang dianggap kuat dan sebaliknya, hadits yang shohih terkadang diabaikan, bahkan tidak jarang beberapa kata “mutiara” yang bukan berasal dari Rasululloh sholallahu ‘alaihi wassalam dinisbatkan kepada beliau. Hal ini tidak lepas dari usaha penyimpangan yang dilakukan oleh musuh-musuh Alloh untuk mendapatkan keuntungan yang sedikit. Akan tetapi, Maha Suci Alloh yang telah menjaga kemurnian As Sunnah hingga akhir zaman melalui para ulama ahli ilmu.<br />
Alloh menjaga kemurnian As Sunnah melalui ilmu para ulama yang gigih dalam menjaga dan membela sunnah-sunnah Rasululloh sholallahu ‘alaihi wassalam dari usaha-usaha penyimpangan. Ini tampak dari ulama-ulama generasi sahabat hingga ulama dewasa ini yang menjaga sunnah dengan menghafalnya dan mengumpulkannya serta berhati-hati di dalam meriwayatkannya. Para ulama inilah yang disebut sebagai para ulama Ahlusunah. Oleh karena itu, perlu kiranya jika kita menuntut dan belajar ilmu dari mereka agar tidak terseret dalam jurang penyimpangan.<br />
Selain melakukan penjagaan terhadap Sunah, Alloh menjadikan Sunnah sebagai sumber hukum dalam agama. Kekuatan As Sunnah dalam menetapkan syariat-termasuk perkara akidah-ditegaskan dalam banyak ayat Al Qur’an, diantaranya firman Alloh yang artinya :</p>
<p>“<em>Dan apa yang diberikan Rasul kepada kalian maka terimalah dan apa yang ia larang maka tinggalkanlah</em>” (Q.S Al Hasyr:7)</p>
<p>Dan firman-Nya</p>
<p>“<em>Wahai orang-orang yang beriman taatilah Alloh dan taatilah Rasul</em>” (Q.S An Nisaa:59)</p>
<p>Firman Alloh tersebut menunjukkan bahwa tidak ada pilihan lain bagi seorang muslim untuk juga mengambil sumber-sumber hukum akidah dari As Sunnah dengan pemahaman ulama. Ibnul Qoyyim juga pernah berkata “Alloh memerintahkan untuk mentaati-Nya dan mentaati Rasul-Nya sholallohu ‘alaihi wassalam dengan mengulangi kata kerja (taatilah) yang menandakan bahwa menaati Rasul wajib secara independent tanpa harus mencocokkan terlebih dahulu dengan Al Qur’an, jika beliau memerintahkan sesuatu. Hal ini dikarenakan tidak akan pernah ada pertentangan antara Qur’an dan Sunnah.</p>
<p><strong>Ijma’ Para Ulama</strong><br />
Ijma’ adalah sumber akidah yang berasal dari kesepakatan para mujtahid umat Muhammad sholallohu ‘alaihi wassalam setelah beliau wafat, tentang urusan pada suatu masa. Mereka bukanlah orang yang sekedar tahu tentang masalah ilmu tetapi juga memahami dan mengamalkan ilmu. Berkaitan dengan Ijma’, Alloh subhanahu wata’ala berfirman yang artinya</p>
<p>”<em>Dan barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti kebenaran baginya dan mengikuti jalan bukan jalannya orang-orang yang beriman, maka Kami akan biarkan ia leluasa berbuat kesesatan yang ia lakukan dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali</em>” (Q.S An Nisaa:115)</p>
<p>Imam Syafi’i menyebutkan bahwa ayat ini merupakan dalil pembolehan disyariatkannya ijma’, yaitu diambil dari kalimat “jalannya orang-orang yang beriman” yang berarti ijma’. Beliau juga menambahkan bahwa dalil ini adalah dalil syar’i yang wajib untuk diikuti karena Alloh menyebutkannya secara bersamaan dengan larangan menyelisihi Rasul.<br />
Di dalam pengambilan ijma’ terdapat juga beberapa kaidah-kaidah penting yang tidak boleh ditinggalkan. Ijma’ dalam masalah akidah harus bersandarkan kepada dalil dari Al Qur’an dan Sunnah yang shahih karena perkara akidah adalah perkara tauqifiyah yang tidak diketahui kecuali dengan jalan wahyu. Sedangkan fungsi ijma’ adalah menguatkan Al Quran dan Sunnah serta menolak kemungkinan terjadinya kesalahan dalam dalil yang dzoni sehingga menjadi qotha’i.</p>
<p><strong>Akal Sehat Manusia</strong><br />
Selain ketiga sumber akidah di atas, akal juga menjadi sumber hukum akidah dalam Islam. Hal ini merupakan bukti bahwa Islam sangat memuliakan akal serta memberikan haknya sesuai dengan kedudukannya. Termasuk pemuliaan terhadap akal juga bahwa Islam memberikan batasan dan petunjuk kepada akal agar tidak terjebak ke dalam pemahaman-pemahaman yang tidak benar. Hal ini sesuai dengan sifat akal yang memiliki keterbatasan dalam memahami suatu ilmu atau peristiwa.<br />
Agama Islam tidak membenarkan pengagungan terhadap akal dan tidak pula membenarkan pelecehan terhadap kemampuan akal manusia, seperti yang biasa dilakukan oleh beberapa golongan (firqoh) yang menyimpang. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Akal merupakan syarat untuk memahami ilmu dan kesempurnaan dalam amal, dengan keduanyalah ilmu dan amal menjadi sempurna. Hanya saja ia tidak dapat berdiri sendiri. Di dalam jiwa, ia berfungsi sebagai sumber kekuatan, sama seperti kekuatan penglihatan pada mata yang jika mendapatkan cahaya iman dan Al Qur’an ia seperti mendapatkan cahaya matahari dan api. Akan tetapi, jika ia berdiri sendiri, ia tidak akan mampu melihat (hakikat) sesuatu dan jika sama sekali dihilangkan ia akan menjadi sesuatu yang berunsur kebinatangan”.<br />
Eksistensi akal memiliki keterbatasan pada apa yang bisa dicerna tentang perkara-perkara nyata yang memungkinkan pancaindera untuk menangkapnya. Adapun masalah-masalah gaib yang tidak dapat tersentuh oleh pancaindera maka tertutup jalan bagi akal untuk sampai pada hakikatnya. Sesuatu yang abstrak atau gaib, seperti akidah, tidak dapat diketahui oleh akal kecuali mendapatkan cahaya dan petunjuk wahyu baik dari Al Qur’an dan As Sunnah yang shahih. Al Qur’an dan As Sunnah menjelaskan kepada akal bagaimana cara memahaminya dan melakukan masalah tersebut. Salah satu contohnya adalah akal mungkin tidak bisa menerima surga dan neraka karena tidak bisa diketahui melalui indera. Akan tetapi melalui penjelasan yang berasal dari Al Qur’an dan As Sunnah maka akan dapat diketahui bahwasanya setiap manusia harus meyakininya. Mengenai hal ini Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa apa yang tidak terdapat dalam Al Qur’an, As Sunnah, dan Ijma’ yang menyelisihi akal sehat karena sesuatu yang bertentangan dengan akal sehat adalah batil, sedangkan tidak ada kebatilan dalam Qur’an, Sunnah dan Ijma’, tetapi padanya terdapat kata-kata yang mungkin sebagian orang tidak memahaminya atau mereka memahaminya dengan makna yang batil.</p>
<p><strong>Fitrah Kehidupan</strong><br />
Dalam sebuah hadits Rasululloh sholallohu ‘alaihi wassalam bersabda</p>
<p>“<em>Setiap anak yang lahir dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang membuat ia menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi</em>” (H.R Muslim)</p>
<p>Dari hadits ini dapat diketahui bahwa sebenarnya manusia memiliki kecenderungan untuk menghamba kepada Alloh. Akan tetapi, bukan berarti bahwa setiap bayi yang lahir telah mengetahui rincian agama Islam. Setiap bayi yang lahir tidak mengetahui apa-apa, tetapi setiap manusia memiliki fitrah untuk sejalan dengan Islam sebelum dinodai oleh penyimpangan-penyimpangan. Bukti mengenai hal ini adalah fitrah manusia untuk mengakui bahwa mustahil ada dua pencipta alam yang memiliki sifat dan kemampuan yang sama. Bahkan, ketika ditimpa musibah pun banyak manusia yang menyeru kepada Alloh seperti dijelaskan dalam firman-Nya.</p>
<p>“<em>Dan apabila kalian ditimpa bahaya di lautan niscaya hilanglah siapa yang kalian seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkan kalian ke daratan, kalian berpaling, dan manusia adalah sangat kufur</em>” (Q.S Al Israa’:67)</p>
<p>Semoga Alloh memahamkan kita terhadap ilmu yang bermanfaat, mengokohkan keimanan dengan pemahaman yang benar, memuliakan kita dengan amalan-amalan yang bermakna. Wallahu’alam.(NZ)</p>
<p><strong>Sumber : majalah Al Islam edisi I dan II</strong></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/draftmuslim.wordpress.com/37/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/draftmuslim.wordpress.com/37/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/draftmuslim.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/draftmuslim.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/draftmuslim.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/draftmuslim.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/draftmuslim.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/draftmuslim.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/draftmuslim.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/draftmuslim.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/draftmuslim.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/draftmuslim.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/draftmuslim.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/draftmuslim.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/draftmuslim.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/draftmuslim.wordpress.com/37/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=draftmuslim.wordpress.com&amp;blog=680589&amp;post=37&amp;subd=draftmuslim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://draftmuslim.wordpress.com/2007/03/01/pokok-sumber-aqidah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a99001807a16189761aa08591482e39c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">arsipmoslem</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apakah Hari Akhir itu ?, Bagaimana beriman kepadanya ?</title>
		<link>http://draftmuslim.wordpress.com/2007/03/01/apakah-hari-akhir-itu-bagaimana-beriman-kepadanya/</link>
		<comments>http://draftmuslim.wordpress.com/2007/03/01/apakah-hari-akhir-itu-bagaimana-beriman-kepadanya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Mar 2007 03:30:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Draft Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://draftmuslim.wordpress.com/2007/03/01/apakah-hari-akhir-itu-bagaimana-beriman-kepadanya/</guid>
		<description><![CDATA[Hari akhir adalah hari kiamat, dimana seluruh manusia dibangkitkan untuk dihisab dan dibalas sesuai amal perbuatannya masing-masing. Kaum muslimin mengatakan hari Akhir, karena tidak ada hari lagi setelahnya. Pada hari itulah penghuni Surga dan penghuni Neraka masing-masing menetap pada tempatnya. Kemudian bagaimana kita beriman kepada hari akhir ?.Iman kepada hari akhir mengandung tiga unsur : [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=draftmuslim.wordpress.com&amp;blog=680589&amp;post=36&amp;subd=draftmuslim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="snap_preview">Hari akhir adalah hari kiamat, dimana seluruh manusia dibangkitkan untuk dihisab dan dibalas sesuai amal perbuatannya masing-masing. Kaum muslimin mengatakan hari Akhir, karena tidak ada hari lagi setelahnya. Pada hari itulah penghuni Surga dan penghuni Neraka masing-masing menetap pada tempatnya. Kemudian bagaimana kita beriman kepada hari akhir ?.<span id="more-36"></span>Iman kepada hari akhir mengandung tiga unsur :<br />
<strong>Pertama, Mengimani ba’ats (kebangkitan)</strong>, yaitu dihidupkannya kembali orang-orang yang sudah mati ketika tiupan sangkakala yang kedua kali. Pada waktu itu semua manusia bangkit untuk menghadap Rabb alam semesta dengan tidak beralas kaki, bertelanjang, dan tidak dikhitan. Alloh Subhannahu wa Ta’ala berfirman,</p>
<p>“<em>Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.” (Q.S Al Anbiyaa 104)</em></p>
<p>Kebangkitan adalah kebenaran yang pasti, ditunjukkan oleh Al Quran, Sunnah dan Ijma’ umat Islam. Alloh Subhannahu wa Ta’ala berfirman,</p>
<p><em>“Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari Kiamat.” (Q.S Al Mu’minun: 15-16)</em></p>
<p>Nabi Muhammad Shalallohu ‘alaihi wa salam juga bersabda,<br />
<em>“Di hari Kiamat seluruh manusia akan dihimpun dengan keadaan tidak beralas kaki dan tidak dikhitan.” (HR. Bukhori-Muslim)</em></p>
<p>Umat Islam sepakat akan adanya hari Kebangkitan karena hal itu sesuai dengan hikmah Alloh yang mengembalikan ciptaan-Nya untuk diberi balasan terhadap segala yang diperintahkan-Nya melalui lisan para Rasul-Nya. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,</p>
<p><em>“Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Q.S, Al Mu’minun: 115)</em></p>
<p>Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Rasululloh Shalallohu ‘alaihi wasallam</p>
<p><em>“Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al Qur’an benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali…” (Q.S Al Qashash : 85)</em></p>
<p><strong>Kedua, Mengimani hisab (perhitungan) dan jaza’ (pembalasan), </strong>dengan meyakini bahwa seluruh perbuatan manusia akan dihisab dan dibalas. Hal ini dipaparkan dengan jelas di dalam Al Qur’an, Sunnah, dan Ijma’ (kesepakatan) umat Islam. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,</p>
<p><em>“Sesungguhnya kepada Kamilah kembali mereka, kemudian sesungguhnya kewajiban Kamilah menghisab mereka”. (Q.S Al Ghasyiyah : 25-26)</em></p>
<p><em>“Barangsiapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi balasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan).” (Q.S Al An’am : 160)</em></p>
<p><em>“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tiadalah dirugikan seorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan.” (Q.S Al Anbiyaa : 47)</em></p>
<p>Dari Ibnu Umar radhiallohu anhu diriwayatkan bahwa Nabi Shalallohu alaihi wassalam bersabda yang artinya :</p>
<p><em>“Alloh nanti akan mendekatkan orang mukmin, lalu meletakkan tutup dan menutupnya. Alloh bertanya, “Apakah kamu tahu dosamu itu ?” Ia menjawab, “ Ya Rabbku.” Ketika ia sudah mengakui dosa-dosanya dan melihat dirinya telah binasa, Alloh Subhannahu wa Ta’ala berfirman, “Aku telah menutupi dosa-dosamu di dunia dan sekarang Aku mengampuninya.” Kemudian diberikan kepada orang mukmin itu buku amal baiknya. Adapun orang-orang kafir dan orang-orang munafik, Alloh Subhanahu wa Ta’ala memanggilnya di hadapan orang banyak. Mereka orang-orang yang mendustakan Rabbnya. “Ketahui-lah, laknat Alloh itu untuk orang-orang yang zhalim.” (HR. Bukhori dan Muslim)</em></p>
<p>Nabi Shalallohu alaihi wassalam bersabda:<br />
<em>“Sesungguhnya yang berniat melakukan suatu kebaikan, lalu mengamalkannya, maka ditulis baginya sepuluh kebaikan, sampai tujuh ratus kali lipat, bahkan sampai beberapa lipat lagi. Barangsiapa berniat melakukan suatu kejahatan, lalu mengamalkannya, maka Alloh menulisnya satu kejahatan saja.”</em></p>
<p>Umat Islam telah sepakat tentang adanya hisab dan pembalasan amal karena itu sesuai dengan kebijaksanaan Alloh. Sebagaimana kita ketahui, Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan kitab-kitab, mengutus para Rasul serta mewajibkan kepada manusia untuk menerima ajaran yang dibawa oleh Rasul-Rasul Alloh itu dan mengerjakan segala yang diwajibkannya. Dan Alloh telah mewajibkan agar berperang melawan orang-orang yang menentang-Nya serta menghalalkan darah, keturunan, isteri dan harta benda mereka. Kalau tidak ada hisab dan balasan tentu hal ini hanya sia-sia belaka, dan Rabb yang Maha Bijaksana, Mahasuci darinya dari hal tersebut. Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah mengisyaratkan hal itu dalam firman-Nya,</p>
<p><em>“Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus Rasul-Rasul kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) Rasul-Rasul (Kami), maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka).” (Q.S Al A’raaf : 6-7)</em></p>
<p><strong>Ketiga, Mengimani Surga dan Neraka </strong>sebagai tempat manusia yang abadi. Surga tempat kenikmatan yang disediakan Alloh untuk orang-orang mukmin yang bertaqwa, yang mengimani apa-apa yang harus diimani, yang taat kepada Alloh dan Rasul-Nya, dan untuk orang-orang yang ikhlas.<br />
Di dalam Surga terdapat berbagai kenikmatan yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah di dengar telinga, serta tidak terlintas dalam benak manusia.</p>
<p><em>“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah surge ‘And yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Alloh ridho terhadap mereka, dan mereka pun ridho kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabbnya.” (Al Bayyinah : 7-8)</em></p>
<p><em>“Tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S As Sajdah : 17)</em></p>
<p>Neraka adalah tempat adzab yang disediakan oleh Alloh Ta’ala untuk orang-orang kafir, yang berbuat zhalim, serta bagi yang mengingkari Alloh dan Rasul-Nya. Di dalam neraka terdapat berbagai adzab dan sesuatu yang menakutkan, yang tidak pernah terlintas dalam hati.</p>
<p><em>“Dan peliharalah dirimu dari api Neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.” (Q.S Ali Imran : 131).</em></p>
<p><em>“… Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang yang zhalim itu Neraka yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta minum, maka mereka akan diberi minuman dengan air seperti besi yang mendidih yang dapat menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (Q.S Al Kahfi : 29)</em></p>
<p><em>“Sesungguhnya Alloh melaknati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (Neraka). Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Mereka tidak memperoleh seorang pelindung pun dan tidak (pula) seorang penolong. Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam Neraka, mereka berkata, “Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Alloh dan taat (pula ) kepada Rasul.” (Q.S Al Ahzab : 64-66)</em></p>
<p>FATWA ULAMA<br />
1.	Bagaimana agar seseorang itu menjadi kuat imannya, melaksanakan perintah-perintah Alloh dan takut dari azab-Nya ?”<br />
Jawab :<br />
Yaitu dengan membaca kitab Alloh (Al-Quran), mempelajari dan memahami arti dan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya dan dengan mempelajari sunnah Nabi shalallohu ‘alaihi wasallam, mengetahu syari’at yang dikandung oleh Sunnah tersebut secara rinci dan mengamalkan sesuai dengan tuntunan keduanya dan selalu berpegang kepadanya dalam aqidah, perkataan dan perbuatan, serta selalu menghadirkan perasaan bahwa Alloh selalu mengawasinya, dan selalu menghadirkan keagungan Alloh, dan mengingat hari akhir dan apa yang ada pada hari akhir tersebut, dari hal hisab, balasan, sangsi, dan mengingat dahsyatnya hari pembalasan tersebut, dan juga dengan bergaul dengan orang-orang shalih yang dikenalnya, serta menjauhi orang-orang yang jahat. Wallohu ‘alam. Fatwa Lajnah Daimah, Jilid I/360.<br />
2.	MUI Haramkan SMS Berhadiah<br />
Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Ma’ruf Amin, memaparkan, definisi SMS berhadiah yang dinyatakan haram itu adalah suatu model pengiriman SMS mengenai berbagai masalah tertentu yang disertai dengan janji pemberian hadiah. Dijelaskannya, SMS berhadiah mengandung judi karena mengundi nasib yang menyebabkan konsumen berharap-harap cemas memperoleh hadiah besar dengan cara yang mudah. Selain itu, kata Ma’ruf, mengandung tabdzir, sebab cenderung membentuk perilaku mubazir yang menyia-nyiakan harta dalam kegiatan yang berunsur maksiat / harom (www.alshohwah.or.id)</p>
<p>Dikirim melalui email oleh Tim Al Shohwah untuk <a href="http://www.mediamuslim.info">http://www.mediamuslim.info</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/draftmuslim.wordpress.com/36/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/draftmuslim.wordpress.com/36/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/draftmuslim.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/draftmuslim.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/draftmuslim.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/draftmuslim.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/draftmuslim.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/draftmuslim.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/draftmuslim.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/draftmuslim.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/draftmuslim.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/draftmuslim.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/draftmuslim.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/draftmuslim.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/draftmuslim.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/draftmuslim.wordpress.com/36/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=draftmuslim.wordpress.com&amp;blog=680589&amp;post=36&amp;subd=draftmuslim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://draftmuslim.wordpress.com/2007/03/01/apakah-hari-akhir-itu-bagaimana-beriman-kepadanya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a99001807a16189761aa08591482e39c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">arsipmoslem</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Amalan Paling Utama Setelah Amalan Wajib</title>
		<link>http://draftmuslim.wordpress.com/2007/02/11/amalan-paling-utama-setelah-amalan-wajib/</link>
		<comments>http://draftmuslim.wordpress.com/2007/02/11/amalan-paling-utama-setelah-amalan-wajib/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Feb 2007 03:03:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Draft Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://draftmuslim.wordpress.com/2007/02/11/amalan-paling-utama-setelah-amalan-wajib/</guid>
		<description><![CDATA[Amalan yang paling utama setelah amalan-amalan wajib adalah berbeda-beda dan tergantung kepada perbedaan kemampuan dan situasi dengan waktu masing-masing individu, sehingga sangatlah luas dan mungkin tidak berkesudahan apabila kita membahas hal tersebut. Tetapi, satu hal yang hampir disepakati oleh para ulama yang mengenal Alloh dan perintah-Nya, bahwa amalan yang paling utama adalah senantiasa berdzikir mengingat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=draftmuslim.wordpress.com&amp;blog=680589&amp;post=35&amp;subd=draftmuslim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom:0;">Amalan yang paling utama setelah amalan-amalan wajib adalah berbeda-beda dan tergantung kepada perbedaan kemampuan dan situasi dengan waktu masing-masing individu, sehingga sangatlah luas dan mungkin tidak berkesudahan apabila kita membahas hal tersebut. Tetapi, satu hal yang hampir disepakati oleh para ulama yang mengenal Alloh dan perintah-Nya, bahwa amalan yang paling utama adalah senantiasa berdzikir mengingat Alloh.</p>
<p style="margin-bottom:0;"><span id="more-35"></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">Secara umum , dzikir merupakan kesibukan yang paling utama untuk dikerjakan oleh seorang hamba. Yang menguatkan hal itu adalah hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Muslim, yang artinya:  ”Sungguh telah menanglah mufaridun!” Para Sahabat bertanya: ”Ya Rasululloh, siapakah mufarridun itu?” Beliau menjawab: ”Orang-orang, laki-laki maupun perempuan yang banyak berdzikir kepada Alloh”</p>
<p style="margin-bottom:0;"><span>Juga dikuatkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Abu Darda’ dari Nabi yang bersabda, yang artinya: ”Maukah kuberitahukan kepada kalian sebaik-baik amal kalian, sesuci-suci kekayaan kalian, setinggi-tinggi derajat kalian, dan apa yang lebih baik bagi kalian daripada menyedekahkan emas dan harta benda atau daripada kalian berjumpa dengan musuh lantas memenggal leher mereka atau mereka memenggal leher kalian?” Para sahabat menjawab: ”Baiklah, ya Rasululloh.” Beliau bersabda: ”Berdzikir kepada Alloh”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span>Banyak sekali dalil-dalil qur’ani dan imani mengenai hal itu, baik yang terlihat, diberitakan, maupun disaksikan. Paling tidak, seorang hamba haruslah konsisten dalam menjalankan dzikir-dzikir yang ma’tsur dari ”Sang Pengajar Kebaikan” dan ”Iman Orang-orang bertaqwa”, dzikir-dzikir yang ditetapkan waktunya pada pagi dan sore hari, menjelang tidur, ketika bangun tidur, seusai sholat, dan dzikir-dzikir <em>muqoyad</em> (terbatas/tertentu) seperti yang diucapkan ketika makan, minum, berpakaian, bersetubuh, masuk rumah, masjid, dan wc serta keluar darinya, ketika hujan turun, ketika terdengar suara petir dan sebagainya. Selalu menjalankan dzikir mutlaq (tiada terbatas) seperti mengucapkan dzikir yang paling utama yaitu: ”<em>La ilaha illallah</em>” dan dalam keadaan tertentu melanjutkan dzikir ini dengan tambahan, seperti: ”<em>Subhanalloh wal hamdulillah wallohu akbar wa la haula wa la quwwata illa billah</em>” menjadi lebih utama.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span>Kemudian, hendaklah ia tahu bahwa apapun yang diucapkan oleh lidah dan dipikirkan oleh hati, yang bisa mendekatkan kepada Alloh, seperti aktivitas mempelajari dan mengajari ilmu, memerintahkan yang makruf dan mencegah kemungkaran merupakan bagian dari dzikir kepada Alloh. Karena itu, barangsiapa yang menyibukkan diri dengan mempelajari ilmu yang bermanfaat setelah melaksanakan kewajiban atau duduk dalam sebuah majelis untuk mendalami atau mengajarkan syariat Islam, ini juga merupakan salah satu bentuk dzikir yang paling utama.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><span>Karena itu jika kita perhatikan, kita tidak akan menemukan dari kalangan umat Islam terdahulu terdapat perbedaan pendapat yang mencolok mengenai amalan yang paling utama. Adapun apa yang masih dirasakan oleh seseorang sebagai keraguan, hendaklah ia ber-istikharah sebagaimana yang disyariatkan. Tidak akan pernah menyesal, InsyaAlloh, siapapun yang ber-istikharah. Hendaklah kita banyak melakukan ini, juga banyak berdoa, karena doa adalah pembuka setiap kebaikan. Janganlah kita tergesa-gesa dengan mengatakan: ”Aku telah berdoa tetapi belum juga dikabulkan”. Hendaklah kita bersabar dan selalu berdoa. Dan juga hendaklah memilih waktu-waktu yang utama seperti di akhir malam, seusai sholat wajib, ketika adzan, ketika turun hujan, dan sebaginya.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;">Semoga semua yang kita bahas kali ini memberikan manfaat bagi kita semua. Dan semoga Alloh memberikan kita hidayah dan lindunganNya dari segala bentuk kejahatan dan kedholiman.</p>
<p style="margin-bottom:0;">(Sumber Rujukan: Washiyyatush Shugra)</p>
<p>Dikirim Oleh: Aminulloh</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/draftmuslim.wordpress.com/35/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/draftmuslim.wordpress.com/35/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/draftmuslim.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/draftmuslim.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/draftmuslim.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/draftmuslim.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/draftmuslim.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/draftmuslim.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/draftmuslim.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/draftmuslim.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/draftmuslim.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/draftmuslim.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/draftmuslim.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/draftmuslim.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/draftmuslim.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/draftmuslim.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=draftmuslim.wordpress.com&amp;blog=680589&amp;post=35&amp;subd=draftmuslim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://draftmuslim.wordpress.com/2007/02/11/amalan-paling-utama-setelah-amalan-wajib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a99001807a16189761aa08591482e39c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">arsipmoslem</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membaca Mushaf Ketika Sholat</title>
		<link>http://draftmuslim.wordpress.com/2007/02/11/membaca-mushaf-ketika-sholat/</link>
		<comments>http://draftmuslim.wordpress.com/2007/02/11/membaca-mushaf-ketika-sholat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Feb 2007 03:00:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Draft Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://draftmuslim.wordpress.com/2007/02/11/membaca-mushaf-ketika-sholat/</guid>
		<description><![CDATA[Asy-Syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini (Murid Al-Imam Al-Albani, tinggal di Mesir) pernah ditanya: Apakah boleh hukumnya memegang mushaf atau meletakannya di alat penyangga sambil membacanya ketika sholat lail? Beliau menjawab: Ya, boleh hukumnya membaca mushaf ketika melaksanakan sholat lail. Dalilnya adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud bahwasanya Dzakwan maula ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah mengimami beliau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=draftmuslim.wordpress.com&amp;blog=680589&amp;post=33&amp;subd=draftmuslim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Asy-Syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini </strong>(Murid Al-Imam Al-Albani, tinggal di Mesir) pernah ditanya:</p>
<p>Apakah boleh hukumnya memegang mushaf atau meletakannya di alat penyangga sambil membacanya ketika sholat lail?<span id="more-33"></span></p>
<p>Beliau menjawab:</p>
<p>Ya, boleh hukumnya membaca mushaf ketika melaksanakan sholat lail. Dalilnya adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud bahwasanya Dzakwan <em>maula </em>‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah mengimami beliau dengan membaca mushaf.</p>
<p>( <em>160 Fatwa min Fatawa Asy-Syaikh Abi Ishaq Al-Huwainy</em>, <a href="http://www.almeshkat.net/books/open.php?cat=15&amp;book=1672">http://www.almeshkat.net/books/open.php?cat=15&amp;book=1672 </a>)</p>
<p><strong>Asy-Syaikh Abu Ubaidah Masyhur Hasan Salman</strong> (Murid Al-Imam Al-Albani, tinggal di Yordania) pernah ditanya:</p>
<p>Apakah boleh hukumnya membaca mushaf ketika sholat?</p>
<p>Beliau menjawab:</p>
<p>Perbuatan ini minimalnya dihukumi makruh karena menyelisihi petunjuk/perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam demikian juga para shahabatnya.</p>
<p>Tentu ada perbedaan antara orang yang membaca dari dadanya (hafalannya) yang dapat memberikan pengaruh yang baik berupa metode, cara dan contoh terhadap mereka yang menghafal qur’an, dibandingkan dengan yang membacanya melalui mushaf, yang seperti ini tentu tidak bisa ditiru atau dicontoh. Padahal manusia saat ini sangat membutuhkan metode, contoh dan akhlak para ulama seperti butuhnya meraka terhadap ilmu para ulama.</p>
<p>Ditambah lagi Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda: <em>“Yang berhak mengimami suatu kaum adalah yang paling baik bacaannya (dan paling banyak hafalannya).</em>” Sehingga sholat dengan membaca mushaf tentunya akan menjadikan hadits ini tanpa makna. Setiap manusia bisa membaca qira’at melalui mushaf, namun demikian para ulama telah sepakat/ijma’ bahwa wajib hukumnya menghafal Al-Fatihah. Qira’at yang dibaca melalui mushaf tentu akan menjadikan ijma’ ulama ini juga tidak ada artinya sama sekali.</p>
<p>Ada banyak hal yang menjadi peringatan berkenaan dengan qira’at melalui mushaf ini, diantaranya:</p>
<p>Orang akan merasa puas/bangga dengan apa yang tidak dimilikinya, padahal Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda: <em>“Orang yang merasa puas/bangga dengan apa yang tidak dimilikinya ibarat orang yang mengenakan pakaian kedustaan.”</em></p>
<p>Manusia yang bermakmum di belakang Imam yang seperti ini tentu akan beranggapan, “Sungguh hebat imam ini, hafalannya banyak, mutqin (kuat hafalnnya dan tidak ada salahnya) serta benar bacaannya,” sehingga dia akan merasa puas/bangga dengan apa yang tidak dimilikinya.</p>
<p>Dan juga dalam perbuatan seperti ini tentu dia akan disibukkan dengan banyak gerakan diluar gerakan sholat yaitu membuka-buka halaman mushaf atau semislanya. Padahal asal dalam solat itu adalah tenang dan tidak banyak bergerak sebagaimana tertera dalam hadits Ubadah di dalam Shahih Muslim; <em>“Tenanglah dalam sholat kalian.”</em></p>
<p>Hal ini juga bertentangan dengan petunjuk <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em> yaitu bahwa orang yang sholat diperintahkan untuk mengarahkan pandangannya ke tempat sujud. Sehingga dengan demikian pada asalnya setiap orang diperintahkan untuk membaca qira’at dari hafalannya.</p>
<p>Hal lain yang menjadi catatan dan peringatan juga adalah bahwa para imam dan kaum muslimin akan menjadi kurang bersemangat dan bersungguh-sungguh untuk menghafalkan Al-Qur’an. Juga tangan kanan dan kiri akan bergantian posisi (karena memegang mushaf).</p>
<p>Akan tetapi  jika memang kondisinya mendesak (<em>idhtirar</em>) seperti misalnya seorang wanita yang tinggal di rumahnya dan dia tidak hafal al-qur’an namun kemudian ingin melaksanakan sholat gerhana (kusuf dan khusuf) dan ingin memperpanjang sholatnya, maka dia boleh membaca qira’atnya melalui mushaf. Telah tsabit dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa beliau memiliki <em>maula</em> yang mengimami beliau qiyam ramadhan dengan membaca mushaf. Dalam kondisi ini maka boleh hukumnya karena dharurah, wallahu a’lam.</p>
<p>( Ruknul Fatawa, <a href="http://www.mashhoor.net/">http://www.mashhoor.net )</a></p>
<p>Abu Ishaq</p>
<p>NB:</p>
<p>Maula = budak yang dibebaskan/dimerdekakan namun kemudian memberikan pelayanan (serve) kepada yang membebaskan/memerdekakan.</p>
<p>Fulan maula ‘Alan = ‘Alan membebaskan/memerdekakan si Fulan kemudian si Fulan memberikan pelayanan/serve kepada si ‘Alan. Si Fulan tetap merdeka dan bukan mejadi budak si ‘Alan.</p>
<p>Wallahu a’lam</p>
<p>oleh Umar Munawir</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/draftmuslim.wordpress.com/33/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/draftmuslim.wordpress.com/33/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/draftmuslim.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/draftmuslim.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/draftmuslim.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/draftmuslim.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/draftmuslim.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/draftmuslim.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/draftmuslim.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/draftmuslim.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/draftmuslim.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/draftmuslim.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/draftmuslim.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/draftmuslim.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/draftmuslim.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/draftmuslim.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=draftmuslim.wordpress.com&amp;blog=680589&amp;post=33&amp;subd=draftmuslim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://draftmuslim.wordpress.com/2007/02/11/membaca-mushaf-ketika-sholat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a99001807a16189761aa08591482e39c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">arsipmoslem</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Riya’ datang…setelah amal selesai…</title>
		<link>http://draftmuslim.wordpress.com/2007/02/11/riya%e2%80%99-datang%e2%80%a6setelah-amal-selesai%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://draftmuslim.wordpress.com/2007/02/11/riya%e2%80%99-datang%e2%80%a6setelah-amal-selesai%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Feb 2007 02:44:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Draft Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://draftmuslim.wordpress.com/2007/02/11/riya%e2%80%99-datang%e2%80%a6setelah-amal-selesai%e2%80%a6/</guid>
		<description><![CDATA[Riya’ merupakan mashdar dari raa-a yuraa-i yang maknanya adalah melakukan suatu amalan agar orang lain bisa melihatnya kemudian memuji. Termasuk ke dalam riya’ juga yaitu sum’ah, yakni agar orang lain mendengar apa yang kita lakukan lalu kitapun dipuji dan tenar. Riya’ dan semua derivatnya itu merupakan akhlaq yang tercela dan merupakan sifat orang-orang munafiq. Allah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=draftmuslim.wordpress.com&amp;blog=680589&amp;post=32&amp;subd=draftmuslim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Riya’ merupakan mashdar dari <em>raa-a yuraa-i</em> yang maknanya adalah melakukan suatu amalan agar orang lain bisa melihatnya kemudian memuji. Termasuk ke dalam riya’ juga yaitu <em>sum’ah</em>, yakni agar orang lain mendengar apa yang kita lakukan lalu kitapun dipuji dan tenar.</p>
<p>Riya’ dan semua derivatnya itu merupakan akhlaq yang tercela dan merupakan sifat orang-orang munafiq. Allah berfirman:<em>&#8221; Dan apabila mereka berdiri untuk sholat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan sholat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka mengingat Allah kecuali sedikit sekali.”</em> (An-Nisaa’: 142)<span id="more-32"></span></p>
<p>Riya’ ini termasuk <em>syirik ashgar</em> namun terkadang bisa juga sampai pada derajat syirik akbar. Al-Imam Ibnul Qayyim berkata ketika memberikan perumpamaan untuk syirik ashgar: “Syirik ashgar itu seumpama riya’ yang ringan.”</p>
<p>Perkataan beliau ini mengindikasikan bahwa ada riya’ yang berat yang bisa sampai pada derajat syirik akbar, wallahu a’lam.</p>
<p>Nah, suatu ibadah yang tercampuri oleh riya’, maka tidak lepas dari tiga (3) keadaan:</p>
<p>1. Yang menjadi motivator dilakukannya ibadah tersebut sejak awal adalah memang riya’ seperti misalnya seorang yang melakukan sholat agar manusia melihatnya sehingga disebut sebagai orang yang shalih dan rajin beribadah. Dia sama sekali tidak mengharapkan pahala dari Allah. Yang seperti ini jelas merupakan syirik dan ibadahnya batal.</p>
<p>2. Riya tersebut muncul di tengah pelaksanaan ibadah. Yakni yang menjadi motivator awal sebenarnya mengharapkan pahala dari Allah namun kemudian di tengah jalan terbersit lah riya’. Yang seperti ini maka terbagi dalam dua kondisi:</p>
<p>a. Jika bagian akhir ibadah tersebut tidak terikat atau tidak ada hubungannya dengan bagian awal ibadah, maka ibadah yang bagian awal sah sedangkan yang bagian akhir batal.</p>
<p>Contohnya seperti yang disampaikan yaitu seseorang bershadaqah dengan ikhlash sebesar 100 ribu, kemudian dia melihat di dompet masih ada sisa, lalu dia tambah shodaqahnya 100 ribu kedua namun dicampuri riya. Nah dalam kondisi ini, 100 ribu pertama sah dan berpahala sedangkan 100 ribu yang kedua gugur.</p>
<p>b. Jika bagian akhir ibadah tersebut terikat atau berhubungan dengan bagian awalnya maka hal ini juga terbagi dalam dua keadaan:</p>
<p>- Kalau pelakunya melawan riya’ tersebut dan sama sekali tidak ingin terbuai serta berusaha bersungguh-sungguh untuk tetap ikhlash sampai ibadahnya selesai, maka bisikan riya’ ini tidak akan berpengaruh sama sekali terhadap nilai pahala ibadah tersebut. Dalilnya adalah sabda Nabi:</p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah memaafkan umatku akan apa yang terbersit di benaknya selama hal itu belum dilakukan atau diucapkan.”</em> (HR Al-Bukhari dari Abu Hurairah)</p>
<p>Contohnya adalah seseorang yang sholat dua rakaat dan sejak awal ia ikhlas karena Allah semata. Pada rakaat kedua terbersitlah riya di hatinya lataran dia sadar ada orang yang sedang memperhatikannya. Namun ia melawannya dan terus berusaha agar tetap ikhlash karena Allah semata. Nah yang demikian ini maka shalatnya tidak rusak insya Allah dan dia tetap akan mendapatkan pahala sholatnya.</p>
<p>- Pelakunya tidak berusaha melawan riya’ yang muncul bahkan larut dan terbuai di dalamnya. Yang demikian ini maka rusak dan gugur pahala ibadahnya.</p>
<p>Contohnya adalah seperti yang disebutkan yaitu seseorang shalat maghrib ikhlash karena Allah semata. Di rakaat kedua muncul lah riya’ di hatinya. Nah kalau dia ini hanyut dalam riya’nya dan tidak berusaha melawan maka gugurlah sholatnya.</p>
<p>3. Riya tersebut muncul setelah ibadah itu selesai dilaksanakan. Yang demikian ini maka tidak akan berpengaruh sama sekali terhadap ibadahnya tadi.</p>
<p>Namun perlu dicatat, jika apa yang dilakukan adalah sesuatu yang mengandung benih permusuhan seperti misalnya <em>al-mannu wal adzaa</em> dalam bershadaqah, maka yang demikian ini akan menghapus pahalanya. Allah berfirman:</p>
<p><em>“Janganlah kalian menghilangkan pahala shadaqah kalian dengan menyebut-nyebutnya atau menyakiti (perasaan si penerima) seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak berimana kepada Allah dan hari kemudian.” </em>(Al-Baqarah: 264)</p>
<p>Bukan termasuk riya’ seseorang yang merasa senang apabila ibadahnya diketahui orang lain setelah ibadah itu selesai ditunaikan. Dan bukan termasuk ke dalam riya juga apabila seseorang merasa senang dan bangga dalam menunaikan suatu keta’atan, bahkan yang demikian ini termasuk bukti keimanannya. Nabi bersabda: <em>“Barangsiapa yang kebaikannya membuat dia senang serta kejelekannya membuat dia sedih, maka dia adalah seorang mu’min (sejati).” </em>(HR. At-Tirmidzi dari Umar bin Khaththab)</p>
<p>Dan Nabi pernah ditanya yang semisal ini kemudin bersabda: <em>“Yang demikian itu merupakan kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mu’min.” </em>(HR. Muslim dari Abu Dzar)</p>
<p><em>Wallahu a’lam.</em></p>
<p>Kira-kira demikian, untuk validasi silakan rujuk ke <em>Al-Qaulul Mufid Syarhu Kitab At-Tauhid</em> nya Al-Imam Ibnu Utsaimin ketika menjelaskan <em>Bab Maa Jaa-a fir Riyaa’.</em></p>
<p>Mungkin memang mudah untuk menjawab dan menulisnya. Tapi saya kira kita semua sepakat bahwa berusaha untuk tetap ikhlash dan berjuang agar tidak lengah dan terbuai oleh hembusan riya’ tidaklah semudah memainkan jemari untuk menari dengan gemulai di atas keyboard menorehkan kata demi kata. <em>Wabillahi ta’ala nasta’in.</em></p>
<p><em>Nas-alullah ta’ala an yaj’ala a’maalanaa khaalishatan li wajhih walaa yaj’ala fihaa syai’an likhalqih wa an yataqabbala minna innahu sami’un mujiib.</em></p>
<p>Abu Ishaq As-Sundawy</p>
<p>Dikirim Udrus ITB</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/draftmuslim.wordpress.com/32/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/draftmuslim.wordpress.com/32/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/draftmuslim.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/draftmuslim.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/draftmuslim.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/draftmuslim.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/draftmuslim.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/draftmuslim.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/draftmuslim.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/draftmuslim.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/draftmuslim.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/draftmuslim.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/draftmuslim.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/draftmuslim.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/draftmuslim.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/draftmuslim.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=draftmuslim.wordpress.com&amp;blog=680589&amp;post=32&amp;subd=draftmuslim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://draftmuslim.wordpress.com/2007/02/11/riya%e2%80%99-datang%e2%80%a6setelah-amal-selesai%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a99001807a16189761aa08591482e39c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">arsipmoslem</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menamai Masjid Dengan Nama Orang</title>
		<link>http://draftmuslim.wordpress.com/2007/02/11/menamai-masjid-dengan-nama-orang/</link>
		<comments>http://draftmuslim.wordpress.com/2007/02/11/menamai-masjid-dengan-nama-orang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Feb 2007 02:38:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Draft Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://draftmuslim.wordpress.com/2007/02/11/menamai-masjid-dengan-nama-orang/</guid>
		<description><![CDATA[Apakah penamaan mesjid dengan nama orang terlarang? Ayat mengatakan “Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan/milik Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping Allah” (QS Al-Jin ayat 18).Apakah bertentangan? Al-Imam Al-Bukhori menyatakan dalam kitab shohehnya ,”Bab: Bolehkah disebut “Masjid Bani fulan “? (Hal yuqoolu masjid bani fulan).Beliau mengutip hadist Ibnu Umar, bahwa Rasulullah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=draftmuslim.wordpress.com&amp;blog=680589&amp;post=31&amp;subd=draftmuslim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="postentry">
<p class="snap_preview">Apakah penamaan mesjid dengan nama orang terlarang? Ayat mengatakan <em>“Dan sesungguhnya <u>mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan/milik Allah</u>. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping  Allah”</em> (QS Al-Jin ayat 18).Apakah bertentangan?<span id="more-31"></span></p>
<p><strong>Al-Imam Al-Bukhori</strong> menyatakan dalam kitab shohehnya ,”Bab: Bolehkah disebut “Masjid Bani fulan “? (<em>Hal yuqoolu masjid bani fulan</em>).Beliau mengutip hadist Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam mengatur pertandingan balapan kuda yang sudah kurus dari al-Hafya’ sampai Tsaniyat Al-Wada’.Dan balapan lain yang tidak dibuat kurus dulu dari As-Tsaniyah ke <u>masjid Bani Ruzayq</u>,dan Abdullah bin Umar diantar yang mengambil bagian dalam balapan ini.</p>
<p>أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم سَابَقَ بَيْنَ الْخَيْلِ الَّتِي قَدْ أُضْمِرَتْ مِنْ الْحَفْيَاءِ إلَى ثَنِيَّةِ الْوَدَاعِ , وَسَابَقَ بَيْنَ الْخَيْلِ الَّتِي لَمْ تُضْمَرْ مِنْ الثَّنِيَّةِ إلَى مَسْجِدِ بَنِي زُرَيْقٍ , وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ فِيمَنْ سَابَقَ بِهَا</p>
<p><strong>Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan dalam Fathul Baari:</strong></p>
<p>يُسْتَفَاد مِنْهُ جَوَازُ إِضَافَة الْمَسَاجِد إِلَى بَانِيهَا أَوْ الْمُصَلِّي فِيهَا , وَيَلْتَحِق بِهِ جَوَاز إِضَافَة أَعْمَال الْبِرّ إِلَى أَرْبَابهَا , وَإِنَّمَا أَوْرَدَ الْمُصَنِّف (الإمام البخاري) التَّرْجَمَة بِلَفْظِ الاسْتِفْهَام لِيُنَبِّهَ عَلَى أَنَّ فِيهِ اِحْتِمَالا إِذْ يُحْتَمَل أَنْ يَكُون ذَلِكَ قَدْ عَلِمَهُ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَنْ تَكُون هَذِهِ الإِضَافَة وَقَعَتْ فِي زَمَنه , وَيُحْتَمَل أَنْ يَكُون ذَلِكَ مِمَّا حَدَثَ بَعْده , وَالأَوَّل أَظْهَر وَالْجُمْهُور عَلَى الْجَوَاز , وَالْمُخَالِف فِي ذَلِكَ إِبْرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ فِيمَا رَوَاهُ اِبْن أَبِي شَيْبَة عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يَكْرَه أَنْ يَقُول مَسْجِد بَنِي فُلان وَيَقُول مُصَلَّى بَنِي فُلان لِقَوْلِهِ تَعَالَى : ( وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ ) .<br />
وَجَوَابه : أَنَّ الإِضَافَة فِي مِثْل هَذَا إِضَافَة تَمْيِيز لا مِلْك ” انتهى</p>
<p>“Dari hadist ini dipahami bahwa diperbolehkan menamai masjid dengan nama yang membangunnya atau yang beribadah dimesjid tersebut.Hal ini juga diperbolehkan untuk mensifati suatu amal baik bagi yang melakukannya.Imam Bukhori memberi judul bab ini dengan bentuk pertanyaan,mengindikasikan akan adanya kemungkinan bolehnya menamai masjid dengan nama kabilah/suku tersebut adalah sesuatu yang dikenal dan terjadi di zaman Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam atau terjadi setelah wafatnya beliau ,tetapi pembuatnya lebih disukai.Dan jumhur para ulama berpandangan akan kebolehannya.Yang tidak setuju akan hal ini diantaranya Ibrahim An-Nakho’i sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah bahwa hal tersebut makruh untuk menyebut “Masjid Bani fula dan fulan” karena Allah berfirman :”Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping Allah” (QS Al-Jin ayat 18). Jawabannya adalah bahwa kepemilikan disini tujuannya untuk membedakan (dari masjid-masjid lain) dan tidak menunjukkan kepemilikan (seperti ditunjukkan dalam ayat diatas).</p>
<p><strong>Ibnu Al-’Arabi berkata dalam Ahkamul Qur’aan (4/277):</strong><br />
Meskipun masjid itu milik Allah dengan jalan kepemilikan dan penghormatan,tetapi mesjid boleh saja di sifati/sinamai kepada yang lain dalam artian sebagai identifikasi.Jadi boleh dikatakan “Masjid Fulan dan Fulan…”<br />
” المساجد وإن كانت لله ملكا وتشريفا ، فإنها قد نسبت إلى غيره تعريفا , فيقال : مسجد فلان ” انتهى</p>
<p><strong>Imam Nawawi berkata dalam Al-Majmu’ (2/208)</strong> :</p>
<p>ولا بأس أن يقال مسجد فلان ، ومسجد بني فلان على سبيل التعريف ” انتهى</p>
<p>Tidak ada yang salah dengan ucapan Masjid Fulan .Atau Masjid Bani fulan dan fulan, untuk tujuan identifikasi.</p>
<p>Dikirim Oleh <strong>Udrus ITB</strong></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/draftmuslim.wordpress.com/31/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/draftmuslim.wordpress.com/31/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/draftmuslim.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/draftmuslim.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/draftmuslim.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/draftmuslim.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/draftmuslim.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/draftmuslim.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/draftmuslim.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/draftmuslim.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/draftmuslim.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/draftmuslim.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/draftmuslim.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/draftmuslim.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/draftmuslim.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/draftmuslim.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=draftmuslim.wordpress.com&amp;blog=680589&amp;post=31&amp;subd=draftmuslim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://draftmuslim.wordpress.com/2007/02/11/menamai-masjid-dengan-nama-orang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a99001807a16189761aa08591482e39c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">arsipmoslem</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hadits Lemah: Perselisihan Adalah Rahmat</title>
		<link>http://draftmuslim.wordpress.com/2007/02/01/hadits-lemah-perselisihan-adalah-rahmat/</link>
		<comments>http://draftmuslim.wordpress.com/2007/02/01/hadits-lemah-perselisihan-adalah-rahmat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Feb 2007 03:00:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Draft Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://draftmuslim.wordpress.com/2007/02/01/hadits-lemah-perselisihan-adalah-rahmat/</guid>
		<description><![CDATA[“Perselisihan di antara umat adalah Rahmat”. Perkataan ini dibawakan oleh Imam Nashr Al-Maqdasy dalam Al-Hujjah dan Imam Al-Baihaqy dalam Ar Risalatul Asy’ariyyah tanpa sanad. Syaikh Al-Albany rahimatulloh berkata dalam Adh-Dho’ifah no 57: “Tidak ada asalnya (arab: laa ashla lahu) dan para muhadditsin (ahli hadits) telah mengerahkan segenap upaya mereka untuk menemukan sanadnya akan tetapi mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=draftmuslim.wordpress.com&amp;blog=680589&amp;post=34&amp;subd=draftmuslim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom:0;">“Perselisihan di antara umat adalah Rahmat”. Perkataan ini dibawakan oleh Imam Nashr Al-Maqdasy dalam Al-Hujjah dan Imam Al-Baihaqy dalam Ar Risalatul Asy’ariyyah tanpa sanad.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Syaikh Al-Albany rahimatulloh berkata dalam Adh-Dho’ifah no 57: “Tidak ada asalnya (arab: <em>laa ashla lahu</em>) dan para muhadditsin (ahli hadits) telah mengerahkan segenap upaya mereka untuk menemukan sanadnya akan tetapi mereka tidak menemukannya.”</p>
<p style="margin-bottom:0;"><span id="more-34"></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">Oleh karena itulah, Al-Munawy menukil dari Imam As-Subky bahwa beliau menyatakan: “(ucapan ini) tidak dikenal di kalangan para muhadditsin, dan saya tidak menemukan untuknya sanad yang shohih, tidak pula (sanad) yang palsu”. Dan hal ini disetujui oleh Syaikh Zakariya Al-Anshory dalam komentar beliau terhadap kitab Tafsirul Baydhowy.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Adapun dari sisi matan (redaksi) hadits, maka Imam Ibnu Hazm setelah mengisyaratkan bahwa ucapan di atas bukanlah hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam, beliau menegaskan: “Ini adalah termasuk di antara ucapan yang paling rusak, karena jika seandainya perselisihan adalah rahmat maka tentunya persatuan adalah siksaan, dan hal ini tentunya tidak akan dikatakan oleh muslim manapun.”</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">(Sumber Rujukan: Ad-Dho’ifah [57], Al-Asrorul Marfu’ah [506] dan Tanzihus Syari’ah[2/402])</p>
<p>Dikirim Oleh: Muhammad Yusuf</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/draftmuslim.wordpress.com/34/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/draftmuslim.wordpress.com/34/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/draftmuslim.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/draftmuslim.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/draftmuslim.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/draftmuslim.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/draftmuslim.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/draftmuslim.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/draftmuslim.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/draftmuslim.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/draftmuslim.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/draftmuslim.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/draftmuslim.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/draftmuslim.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/draftmuslim.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/draftmuslim.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=draftmuslim.wordpress.com&amp;blog=680589&amp;post=34&amp;subd=draftmuslim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://draftmuslim.wordpress.com/2007/02/01/hadits-lemah-perselisihan-adalah-rahmat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a99001807a16189761aa08591482e39c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">arsipmoslem</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hanya Kepada Alloh Semata Doa Seorang Hamba</title>
		<link>http://draftmuslim.wordpress.com/2007/01/10/berdoa-hanya-kepada-alloh-semata/</link>
		<comments>http://draftmuslim.wordpress.com/2007/01/10/berdoa-hanya-kepada-alloh-semata/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Jan 2007 01:01:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Draft Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://draftmuslim.wordpress.com/2007/01/10/berdoa-hanya-kepada-alloh-semata/</guid>
		<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Berdoa dan melaksanakan berbagai Ibadah haruslah hanya kepada Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala semata. Sudah menjadi hak Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala bahwa tiada yang boleh menyekutukan NYA dengan segala sesuatu apapun. Sangatlah terlarang dan tercela seperti yang dilakukan banyak kaum muslim saat ini yang berbondong-bondong menuju kuburan &#8220;orang-orang sholeh&#8221; dan meminta serta beribadah disana. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=draftmuslim.wordpress.com&amp;blog=680589&amp;post=15&amp;subd=draftmuslim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><strong><a href="http://www.mediamuslim.info/">MediaMuslim.Info</a></strong><strong> &#8211; </strong>Berdoa dan melaksanakan berbagai Ibadah haruslah hanya kepada  Alloh  <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala </em>semata. Sudah menjadi hak Alloh   <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala </em>bahwa tiada yang boleh menyekutukan NYA dengan segala sesuatu apapun. Sangatlah terlarang dan tercela seperti yang dilakukan banyak kaum muslim saat ini yang berbondong-bondong menuju kuburan &#8220;orang-orang sholeh&#8221; dan meminta serta beribadah disana. Wallohu A&#8217;lam</p>
<p align="justify">Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> dekat dengan para hamba-Nya. Alloh mengetahui kedudukan mereka, mengabulkan permohonan mereka dan tidak ada sedikitpun urusan mereka yang tidak Dia ketahui. <em>&#8220;Sesungguhnya bagi Alloh  tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit.&#8221;</em>  (QS: Ali Imran: 5)<br />
<span id="more-15"></span>Hanya Alloh semata yang menciptakan kita dan memberi rezeki kepada kita. Di tangan-Nya jua-lah kekuasaan, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu. Firman Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>, yang artinya:   <em>&#8220;Kepunyaan Allh-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya;  dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.&#8221;</em> (QS: Al-Maa-idah: 120)</p>
<p>Di tangan Alloh-lah segala kebaikan. Apabila Alloh memberikan perintah dalam Kitab-Nya atau melalui lisan Rasul-Nya, harus ditaati dan dituruti. Firman Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>, yang artinya: <em>&#8220;Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Alloh dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Alloh membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.&#8221;</em> (QS: Al-Anfaal: 24)</p>
<p>Alloh yang Maha Kuasa dapat mendengar doa para hamba-Nya di setiap tempat dan waktu dengan pelbagai kebutuhan dan bercorak ragam bahasa mereka. Sebagaimana firman Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>, yang artinya: <em>&#8220;Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.&#8221;</em> (QS:. Al-Baqarah:  186)</p>
<p>Alloh telah memerintahkan kita untuk berdoa kepada-Nya dengan suara  perlahan, dengan tunduk dan pasrah. Firman Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>,  yang artinya: <em>&#8220;Berdo&#8217;alah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas..&#8221;</em> (QS: Al-A&#8217;raaf: 55)</p>
<p>Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> memiliki segala kekuasaan dan segala pujian. Dan Alloh juga menguasai segala sesuatu. Langit dan bumi serta segala yang terdapat di dalamnya bertasbih kepada Alloh, sebagaimana firman Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>, yang  artinya: <em> &#8220;Berdo&#8217;alah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas..&#8221;</em> (QS: Al-Israa: 44)</p>
<p>Alloh telah mengancam orang-orang yang takkabur dan enggan beribadah serta berdoa kepada-Nya dengan Neraka Jahannam. Firman Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>, yang artinya: <em>&#8220;Dan Rabbmu berfirman:&#8221;Berdo&#8217;alah kepada-Ku,niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk naar Jahannam dalam keadaan hina dina.&#8221;</em> (QS: Al-Mukmin: 60)</p>
<p>Berdoa kepada Alloh harus dengan cara yang disyariatkan oleh Alloh dan Rasul-Nya. Di antaranya berdoa kepada Alloh dengan menjadikan Asma Alloh Al-Husna sebagai perantara. <em>&#8220;Hanya milik Alloh asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.&#8221;</em> (QS: Al-A&#8217;raaf ;  180)</p>
<p>Misalnya kita ucapkan: &#8220;Wahai Ar-Rahman (yang Maha Pengasih) kasihanilah kami; wahai Al-Ghafur (Yang Maha Pengampun) ampunilah kami; wahai Ar-Razzaq (Yang Maha Memberi rezeki, berikan rezeki kepada kami,&#8221; dan sejenisnya.</p>
<p>Apabila seorang hamba berdoa kepada Alloh, terkadang Alloh memberikan apa yang dia mohon, dan terkadang Alloh menghindarikan dirinya dari bahaya yang lebih besar daripada permohonan yang dia minta; atau bisa jadi Alloh menyimpan pahala doanya itu hingga Hari Akhir nanti. Karena Alloh memerintahkan berdoa dan berjanji akan mengabulkannya. Firman Alloh <em>Subhanahu wa  Ta&#8217;ala</em>, yang artinya: <em>&#8220;Dan Rabbmu berfirman:&#8221;Berdo&#8217;alah  kepada-Ku,niscaya akan Ku-perkenankan bagimu.&#8221;</em> (QS: Al-Mukmin:  60)</p>
<p>Alloh memerintahkan kita untuk beribadah kepada-Nya semata, dan memperingatkan kita agar tidak beribadah kepada syetan. Berfirman Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>, yang artinya: <em>&#8220;Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi kamu.. Dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus.&#8221;</em> (QS: Yaasin: 60-61)</p>
<p>Berdoa kepada selain Alloh untuk memenuhi kebutuhan atau menolak bala atau untuk mencari kesembuhan dari penyakit kesemuanya dapat mengotori akal dan membutakan mata hati. Alloh berfirman, yang artinya: <em>&#8220;Katakanlah: &#8220;Apakah kita akan menyeru selain daripada Alloh, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudharatan kepada kita dan (apakah) kita akan dikembalikan ke belakang sesudah Alloh memberi petunjuk kepada kita..&#8221; </em>(QS: Al-An&#8217;aam: 71)</p>
<p>Sesungguhnya berdoa kepada dzat yang tidak dapat memberikan manfaat dan mudharrat, yang tidak mampu memerintah dan melarang, tidak mampu mendengar dan tidak mampu memperkenankan doa, baik itu dari kalangan para nabi dan rasul, jin atau malaikat, bintang-bintang atau benda langit lainnya, pepohonan dan bebatuan serta orang-orang yang sudah mati, kesemuanya adalah kezhaliman yang besar, merupakan kesesatan dari jalan yang lurus dan perbuatan syirik terhadap Alloh yang Maha Agung. Firman Alloh <em>Subhanahu wa  Ta&#8217;ala</em>, yang artinya: <em>&#8220;Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa&#8217;at dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Alloh; sebab jika kamu berbuat (yang demikian itu) maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim&#8221;. </em>(QS: Yunus: 106)</p>
<p>Juga firman  Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>, yang artinya: <em>&#8220;Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sesembahan selain Alloh yang tiada dapat memperkenankan (do&#8217;anya) sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do&#8217;a mereka.&#8221;</em> (QS: Al-Ahqaaf: 5)</p>
<p>Berdoa kepada selain Alloh adalah perbuatan syirik dan merupakan dosa besar, bahkan dosa terbesar. Segala bentuk dosa bisa diampuni oleh Alloh bagi siapa yang Alloh kehendaki, kecuali dosa syirik. Sebagaimana firman Alloh <em>Subhanahu wa  Ta&#8217;ala</em>, yang artinya: <em>&#8220;Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.&#8221;</em> (QS: An-Nisaa: 48)</p>
<p>Pada Hari Kiamat nanti  Alloh  <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala </em>akan mengumpulkan orang-orang musyrik dan setiap orang yang beribadah kepada-Nya, namun para sesembahan tersebut akan berlepas diri dari mereka, bahkan mengingkari penyembahan mereka. Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala </em>berfirman, yang artinya: <em>&#8220;Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Alloh tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. ( Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu.Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui. (Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Alloh; dan Alloh Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.&#8221;</em> (QS: Al-Faathir:  13-15)</p>
<p>(Sumber Rujukan: Ushul Ad-Dienil Islami oleh Syaikh Muhammad bin  Ibrahim At-Tuwaijiri)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/draftmuslim.wordpress.com/15/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/draftmuslim.wordpress.com/15/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/draftmuslim.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/draftmuslim.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/draftmuslim.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/draftmuslim.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/draftmuslim.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/draftmuslim.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/draftmuslim.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/draftmuslim.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/draftmuslim.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/draftmuslim.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/draftmuslim.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/draftmuslim.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/draftmuslim.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/draftmuslim.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=draftmuslim.wordpress.com&amp;blog=680589&amp;post=15&amp;subd=draftmuslim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://draftmuslim.wordpress.com/2007/01/10/berdoa-hanya-kepada-alloh-semata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a99001807a16189761aa08591482e39c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">arsipmoslem</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
